burhan's blog

Agribusiness and Entrepreneur Forever

MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI MELALUI PENINGKATAN JUMLAH WIRAUSAHA: SEBUAH KERANGKA PENELITIAN

January 24th, 2012

(ditulis untuk Orange Book FEM IPB, 2010)

Pendahuluan

Globalisasi membuat kompetisi semakin ketat dan transfer pengetahuan semakin cepat.  Dunia sudah memasuki peradaban keempat dengan sebutan era kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi.  Kebutuhan terhadap inovasi sangat mutlak  jika bersaing dalam dunia yang berubah dengan cepat dan tidak diramalkan ini.  Bangsa Indonesia pun harus bekerja keras dan kreatif jika ingin survive dan menang dalam persaingan.  Setiap perusahaan dan instansi pemerintah, terutama para pemimpinnya, harus berpikir terus untuk selalu menemukan sesuatu yang baru yang lebih baik dan efisien, agar menang dalam persaingan jika tidak ingin “dimakan” oleh negara lain.  Kritik yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia kurang kreatif harus ditanggapi dengan serius dan hal itu harus dianggap sebagai tantangan.   Untuk menjawab itu, presiden Republik Indonesia baru-baru ini telah melontarkan gagasan membentuk KIN (Komisi Inovasi Nasional) yang pada hakekatnya Ki Hajar Dewantoro (pahlawan pendidikan nasional) telah bicara tentang konsep inovasi dengan menerapkan prinsip Niteni (mencari tahu, meneliti); Niroake (menirukan, simulasi); dan Nambahake (mengembangkan dan memberi nilai tambah).

Wirausaha (entrepreneur) diartikan sebagai  seorang inovator dan penggerak pembangunan.  Bahkan, seorang wirausaha merupakan katalis yang  agresif untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.  Wirausaha adalah individu yang memiliki pengendalian tertentu terhadap alat-alat produksi dan menghasilkan lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsinya atau dijual atau ditukarkan agar memperoleh pendapatan (McClelland, 1961). Wirausaha adalah pencipta kekayaan  melalui inovasi, pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja keras dan pengambilan resiko (Bygrave, 2004). Ini berarti bahwa kewirausahaan sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.

Kewirausahaan bukanlah sesuatu yang baru dalam ekonomi. Istilah kewirausahaan telah dilakukan setidaknya sejak 150 tahun yang lalu, dan konsepnya telah ada sejak 200 tahun lalu (Bygrave, 2004).  Namun, pertama kali gagasan tentang kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat dan positif disampaikan oleh Schumpeter pada tahun 1911.  Peningkatan jumlah wirausaha menyebabkan peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ada lima alasan yang melatarbelakangi gagasan Schumpeter ini, yakni: (1) wirausaha yang mengenalkan produk baru dan kualitas baru dari suatu produk, (2) wirausaha yang mengenalkan metode baru berproduksi yang lebih komersial, baik berdasarkan pengalaman maupun hasil kajian ilmiah dari suatu penelitian (3) wirausaha yang membuka pasar baru, baik dalam negeri ataupun di negara yang sebelumnya belum ada pasar (4) wirausaha yang menggali sumber pasokan bahan baku baru bagi industri setengah jadi atau industri akhir, dan (5) wirausaha yang menjalankan organisasi baru dari industri apapun. Kelima hal inilah mengapa wirausaha mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara, karena adanya  peningkatan produktivitas.

Dengan mendorong pertumbuhan ekonomi, wirausaha mempengaruhi seluruh perekonomian, khususnya pengaruhnya pada pasar tenaga kerja.  Pertumbuhan ekonomi yang meningkat sangat mungkin akan meningkatkan peluang kesempatan berusaha, namun disisi lain akan mengarah pada tekanan inflasi yang berpengaruh langsung pada upah tenaga kerja.  Padahal kenaikan upah tenga kerja tidak bisa selalu diturunkan dari ketidakseimbangan pada pasar tenaga kerja pasar.

Davidsson (2003) dan  Kirzner (1973) berpendapat bahwa wirausaha merupakan perilaku kompetitif yang mendorong pasar, bukan hanya menciptakan pasar baru, tetapi menciptakan inovasi baru ke dalam pasar, sekaligus sebagai kontribusi nyata dari wirausaha sebagai penentu pertumbuhan ekonomi.  Lebih tegas Wennekers dan Thurik (1999) dan Carree dan Thurik (2003) menyatakan bahwa pada dasarnya, wirausaha memberikan kontribusi pada kinerja ekonomi dengan memperkenalkan inovasi, menciptakan perubahan, menciptakan persaingan dan meningkatkan persaingan.  Dengan demikian, dalam jangka panjang eksistensi wirausaha sangat penting bagi  pertumbuhan ekonomi (Cipolla, 1981; Lazonick, 1991) dan produktivitas tinggi akan meningkatkan efisiensi (Weiss, 1976).   Bahkan, pemikiran yang menghubungkan wirausaha dengan pertumbuhan ekonomi membuat evolusi industri atau evolusi ekonomi (Jovanovic, 1994 dan Audretsch, 1995). Dari sudut pandang ini, wirausaha bertindak sebagai agen perubahan, membawa ide-ide baru untuk pasar dan merangsang pertumbuhan melalui proses persaingan perusahaan.

Wennekers dan Thurik (1999) membangun kerangka operasional penelitian yang menghubungkan kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi.  Wennekers dan Thurik jelas menunjukkan bahwa berbagai aktivitas wirausaha pada berbagai level berdampak pada pertumbuhan ekonomi.  Dengan asumsi ceteris paribus, peningkatan jumlah wirausaha mengarah pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena masih sedikitknya model pertumbuhan ekonomi yang secara eksplisit fokus pada wirausaha, Schmitz (1989) membuat konsep model pertumbuhan  ekonomi teoritis yang  diinspirasi oleh model pertumbuhan endogen yang dikembangkan oleh Romer (1986). Dalam model tersebut, Schmitz menempatkan formasi perusahaan baru sebagai variabel endogen penentu  pertumbuhan ekonomi dan peningkatan individu-individu yang memilih menjadi karyawan atau wirausaha. Model teoritis ini  menjelaskan bahwa peningkatan tingkat kewirausahaan dalam perekonomian menghasilkan tambahan input-input perekonomian. Lalu, bagaimana hubungan tingkat aktivitas kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi ini dijelaskan dengan menggunakan data empirik? Bagaimana pula mengukur tingkat aktivitas kewirausahan?

Pengembangan Hipotesis

Kesulitan yang akan dihadapi adalah mendapatkan data kewirausahaan tingkat nasional yang diduga akan berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang umumnya diukur dari output, produktivitas atau kekayaan.  Oleh karena itu, para peneliti kemudian mengukur tingkat aktivitas kewirausahaan melalui indikator mikro seperti penciptaan lapangan kerja baru, jumlah pekerja di perusahaan, keluar-masuknya perusahaan, jumlah pencari kerja, kepemilikan usaha, dan tingkat urbanisasi.  Namun, yang penting untuk dipahami bahwa baik model pertumbuhan ekonomi neo-klasik (Solow, 1956) dan pertumbuhan endogen (Romer, 1986) mengakui pentingnya teknologi inovasi dalam mendorong pertumbuhan, melalui tingkat teknologi dan peningkatan produktivitas.

Audretsch dan Thurik (2000) membangun model persamaan tunggal  mengukur aktivitas kewirausahan dari kepemilikan usaha sebagai variabel eksogen dan  menyimpulkan bahwa pertumbuhan jumlah wirausaha menyebabkan penurunan tingkat pengangguran.  Carree et al. (2002) dengan membangun error correction model (ECM) menentukan tingkat ekuilibrium antara ativitas kewirausahaan dengan pertumbuhan ekonomi, yang didekati dari keseimbangan pasar tenaga kerja di perusahaan.

Untuk memberikan panduan dalam meneliti hubungan tingkat aktivitas kewirausahan dengan pertumbuhan ekonomi pada level makro, perlu dibangun hipotesisnya.  Wong  et al. (2005) membuat enam hipotesis umum, yaitu: (1) Negara dengan tingkat teknologi inovasi lebih tinggi, tingkat pertumbuhan ekonominya lebih cepat; (2)  Negara dengan total aktivitas kewirausahaan (total entrepreneurship activity) lebih tinggi,  tingkat pertumbuhan ekonominya lebih cepat; (3) Negara dengan peluang total aktivitas kewirausahaan lebih tinggi, tingkat pertumbuhan ekonominya lebih cepat; (4) Negara dengan kebutuhan akan total aktivitas kewirausahaan lebih tinggi, tingkat pertumbuhan ekonominya akan lebih lambat dibandingkan dengan negara yang kebutuhan akan total aktivitas kewirausahaannya lebih rendah; dan (5) Negara dengan potensi total aktivitas kewirausahaan lebih tinggi, tingkat pertumbuhan ekonominya lebih cepat.

Dalam konteks demikian, maka perlu identifikasi yang akurat terhadap variabel-variabel eksogen dari aktivitas kewirausahan yang pada akhirnya dapat menduga perubahan pertumbuhan ekonomi.  Oleh karena itu, penguasaan terhadap teori-eori ekonomi makro maupun ekonomi mikro menjadi syarat mutlak membangun model hubungan antara aktivitas kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena aktivitas kewirausahaan bukan variabel independen dari pertumbuhan. Namun, sudah dipahami bahwa hubungan positif antara variabel endogen pertumbuhan dan variabel eksogen aktivitas kewirausahaan didasarkan pada aktivitas inovasi.  Salah satu aktivitas inovasi menurut Dejardin (2000) yang dapat menduga variabel endogen aktivitas kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi adalah pilihan kerja individu, upah relatif, dan proyek-proyek pembangunan sosial, baik yang produktif maupun yang tidak produktif.  Variabel endogen aktivitas kewirausahaan juga dapat dijelaskan dari variabel eksogen kebijakan, seperti distribusi dan alokasi keterampilan dan intervesi pada public ation yang dapat berupa kebijakan fiskal yang mengapresiasi inovasi atau pengembangan kelembagaan yang mendorong tumbuhnya wirausaha.

Glaeser et al. (2009)  menyatakan bahwa masih ada keterbatasan dalam membangun model dan estimasi aktivitas kewirausahaan.  Namun,  beberapa pertanyaan penting dapat  menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian dan sekaligus membangun model kedepan adalah sebagai berikuti: Pertama, apa dampak dari kewirausahaan di tingkat lokal? Pertanyaan ini menjadi sangat penting, karena tidak banyak penelitian yang menunjukkan bukti kuat tentang dampak kewirausahaan terhadap pembangunan ekonomi lokal (kota, kabupaten atau propinsi), baik penelitian dasar maupun kebijakan publik. Hal ini diduga karena sulitnya mengidentifikasi variabel-variabel eksogen dari aktivitas kewirausahaan yang independen pada keberhasilan ekonomi lokal.

Kedua, apa penyebab variasi spasial dalam aktivitas kewirausahaan?  Walaupun secara empiris aktivitas kewirausahaan yang meningkat seiring dengan peningkatan ketersediaan input-input yang relevan, namun masih sulit mengindentifikasi input-input penting apa yang diduga mempengaruhi  peningkatan aktivitas kewirausahaan tersebut. Misalnya, apakah interakasi sosial, motivasi individu menjadi wirausaha, kebijakan pemerintah dalam mengembangkan budaya wirausaha, dan lainnya.  Namun demikian, kondisi ini harus dimaknai sebagai tantangan penelitian kewirausahaan kedepan.

Ketiga, walaupun sudah ditemukan variabel eksogen dari aktivitas kewirausahaan, lalu bagaimana dengan cakupan spasialnya? Dalam kebanyakan kasus, variabel-variabel eksogen tersebut bekerja pada tingkat spasial yang relatif kecil, seperti kelompok, perusahaan, dan koperasi di kota atau kabupaten tertentu.  Tantangannya kemudian bagaimana kalau cakupan spasialnya lebih luas, misalnya tingkat regional bahkan nasional.

Keempat, jika aktivitas kewirausahaan diyakini berdampak luas, lalu bagaimana dampaknya pada isu-isu urban?  Bagaimana variabel-variabel eksogen dari aktivitas kewirausahan dapat menjelaskan isu-isu, seperti disparitas desa kota, desentralisasi, perbedaan  pertumbuhan dan produk unggulan, variasi kebijakan antar daerah, dan ketidakseimbangan ekonomi antar daerah?  Walaupun tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tidak berarti bahwa variabel aktivitas kewirausahaan bisa diabaikan.  Hal ini karena peran wirausaha dalam membentuk perekonomian lokal tidak bisa disangkal, sehingga mengaibakan aktivitas kewirausahaan merupakan kesalahan besar (Glaeser et al., 2009).

Kewirausahaan dan Pertumbuhan Ekonomi

Audretsch dan Keilbach (2005) menempatkan entrepreneurship capital (modal kewirausahaan) sebagai variabel independen yang menjelaskan kinerja ekonomi regional.  Model persamaan yang dibangun adalah model persamaan tunggal dengan dua jumlah persamaan dan diestimasi oleh three stage least square (3SLS) error correction.  Persamaan pertama adalah kinerja ekonomi regional (variabel endogen) sebagai fungsi dari cadangan modal, tenaga kerja, intensitas R & D dan modal kewirausahaan, sedangkan persamaan kedua menjelaskan tingkat modal kewirausahaan modal regional sebagai fungsi dari kinerja ekonomi regional dan variabel eksogen lain pembentuk modal kewirausahaan, seperti tingkat teknologi, pajak, populasi, dan munculnya usaha-usaha baru.

Audretsch dan Keilbach mampu memberikan bukti empiris yang menunjukkan bahwa modal kewirausahaan sangat signifikan dan berdampak positif pada kinerja ekonomi regional, begitu juga dengan intensitas  R & D regional.  Modal kewirausahaan semakin besar pada regional yang kinerja ekonominya kuat. Pada regional yang investasinya besar pada perusahaan yang sudah ada cenderung tingkat modal kewirausahaannya rendah.  Intensitas R & D  yang kuat berdampak positif pada modal kapital yang berbasis pengetahuan, tetapi tidak berdampak pada modal kapital di industri berbasis “low-tech”.  Regional yang bersubsidi tidak signifikan mempengerauhi perilaku kewirausahaan, sedangkan tingginya pajak berkorelasi positif dengan modal kapital regional.  Daya tarik regional juga tidak berdampak pada keputusan memulai usaha baru, baik di industri berbasis “high-tech” maupun “low-tech”.  Namun, kepadatan penduduk justru berdampak positif pada modal kewirausahaan, khususnya kewirausahan yang berbasis pengetahuan. Dengan demikian, peranan kewirausahaan sangat penting dalam proses penciptaan produk dan teknologi baru di wilayah padat penduduk dan pusat industri.  Proses tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran yang rendah.

Penelian panel Kreft dan  Sobel (2005) di seluruh negara bagian Amerika Serikat menunjukkan bahwa derajat kebebasan ekonomi (economic freedom), yakni variabel  pajak rendah, regulasi tidak ketat, dan perlindungan hak cipta swasta berdampak signifikan pada aktivitas kewirausahaan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi.  Penghubung antara kebebasan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi adalah aktivitas kewirausahaan.  Jadi, kebebasan ekonomi akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi terutama karena meningkatnya kegiatan produktif sektor swasta yang merupakan variabel aktivitas kewirausahaan.

Formaini (2001) menegaskan bahwa negara kapitalis seperti Amerika Serikat pun dalam menghadapi  pasar terbuka dan kompetitif, aturan hukum, disiplin fiskal, dan berbagai budaya perusahaan harus tetap menempatkan kecepatan inovasi dan peningkatan produktivitas.  Oleh karena itu, ekonomi Amerika akan ditentukan oleh keberanian mengambil resiko dari para wirausaha dan visi para managernya yang imajinatif.  Di pasar global yang kompetitif, bangsa yang melupakan kontribusi wirausaha pada perubahan teknologi, produktivitas, efisiensi sumber daya, dan pertumbuhan ekonomi, pembangunannya berpotensi high cost (Drozdiak 2001).

Yang (2007) mengungkapkan bahwa setelah hampir dua dekade hilang dari lansekap ekonomi Cina, kewirausahaan dihidupkan kembali pada akhir 1970-an. Awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan, ternyata energi kewirausahaan masyarakat secara serius menjadi kebijakan ekonomi Cina.  Cina menyadari bahwa jauh lebih efisien untuk meningkatkan perekonomian dengan memberikan  ruang gerak lebih bebas pada wirausaha daripada kontrol negara yang ketat.  Hasilnya sangat luar biasa, bahkan saat ini Cina menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia.  Selain pertumbuhan ekonominya berkembang pesat, wirausaha juga telah membuat standar kehidupan Cina lebih tinggi.

Belajar dari Cina, maka para pimpinan Indonesia yang bertanggungjawab dalam membuat kebijakan ekonomi harus berjuang keras untuk mendorong inovator dan pengambil risiko usaha, yakni wirausaha. Menegakkan hak milik melalui kontrak, paten dan hak cipta, mendorong persaingan melalui perdagangan bebas, deregulasi dan undang-undang antitrust, dan mempromosikan iklim ekonomi yang sehat melalui inisiatif anti-inflasi, dan lainnya yang merupakan contoh kebijakan yang memberdayakan wirausaha.  Penghargaan terhadap para wirausaha berprestasi perlu diagendakan dan intensitasnya ditingkatkan, karena akan menumbuhkan perekonomian dan menjadi indikator keberhasilan bagi pembuat kebijakan, yaitu pemerintah.

Oleh kerena itu, pemahaman pembuat kebijakan terhadap pentingnya kewirausahaan bagi pertumbuhan ekonomi dapat diaktualisasikan melalui kebijakan-kebijakannya dalam program permodalan, target-target subsidi usaha kecil, dan penumbuhan usaha-usaha baru (Hall, 2006).  Dengan kata lain, pembuat kebijakan harus fokus pada kebijakan peningkatan produktivitas kewirausahaan supaya kinerjanya dinilai baik oleh publik.  Adam Smith mengatakan: “Little else is requisite to carry a state to the highest degree of opulence from the lowest barbarism, but peace, easy taxes, and a tolerable administration of justice; all the rest being brought about by the natural course of things” (Smith, 1998).

Penelitian  Wong (2005) yang menggunakan data cross-section, menunjukkan bahwa prevalensi tinggi pertumbuhan perusahaan baru hanya berpotensi menjelaskan perbedaan laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang diamati. Dengan demikian, memiliki bergelar tinggi dalam kewirausahaan atau memiliki prevalensi penciptaan usaha baru tidak menjamin meningkatkan kinerja ekonomi dan mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi.  Hal ini menunjukkan selain karena variabel penciptaan usaha baru merupakan variabel yang berbeda dengan inovasi teknologi, juga mengindikasikan bahwa tidak banyak wirausaha yang terlibat dalam pengembangan inovasi teknologi.  Ini berarti berbeda dengan model pertumbuhan neo-klasik yang memempatkan inovasi secara implisit sebagai proksi aktivitas kewirausahaan dalam setiap pembentukan perusahaan baru.  Namun demikian, diakui oleh Wong (2005) bahwa penelitiannya ini memiliki keterbatasan data dan menyarankan untuk menggunakan data time series karena kausalitasnya lebih menyakinkan serta masih ada masalah pada estimasi modelnya akibat dari spesifikasi variabelnya yang temporal.

Hall dan Sobel (2008) membuktikan bahwa perbedaan kualitas kelembagaan  ekonomi beberapa  negara mampu menjelaskan perbedaan aktivitas  kewirausahaan antar negara tersebut.  Melalui mekanisme kelembagaan, aktivitas kewirausahaan dapat ditransformasi ke dalam pertumbuhan ekonomi.  Walaupun kapital dan tenaga kerja wilayah dengan pendapatan rendah cenderung mengalir ke wilayah berpendapatan tinggi, namun tingkat inovasi tinggi dengan kelembagaan yang baik mampu mengganggu aliran kapital dan tenaga kerja tersebut.   Menurut teori pertumbuhan endogen, variabel tingkat produksi pengetahuan, belanja untuk penelitian dan pengembangan merupakan kunci dalam meningkatkan pendapatan.  Dan, peran kelembagaan penelitian dan pengembangan inilah yang kemudian diterjemahkan kedalam pertumbuhan ekonomi.  Oleh karena itu, pengakuan dan penguatan kelembagaan ekonomi merupakan langkah awal proses mempromosikan kewirausahaan  sekaligus sebagai akar dari sumber pertumbuhan ekonommi dan kemakmuran.

Analisis Leeson dan Boettke (2009) menyimpulkan bahwa justru ekonom yang kurang mempertimbangkan tingkat kewirausahaan dan di negara-negara berkembang cenderung mengabaikan dan salah dalam memahami hubungan aktivitas kewirausahaan dengan kinerja ekonomi.  Padahal, berinvestasi dibidang teknologi produktif yang merupakan inti produktivitas kewirausahaan akan menghasilkan tingkat pembangunan ekonomi yang impresif.  Analisis ini memberikan makna bagi para ekonom dan peneliti bidang ekonomi untuk lebih fokus dan mempertimbangkan variabel-variabel eksogen dari aktivitas kewirausahaan untuk menduga dampaknya pada varibel endogen pertumbuhan ekonomi.

Penutup

Kewirausahaan adalah tentang masa depan. Bukan masa depan sudah diprediksi, tetapi masa depan yang hampir tidak terbayangkan hari ini dan hanya dapat diketahui dari kreativitas dan penciptaan esok hari.  Inilah yang yang selalu menjadi perdebatan antara wirausaha dengan ekonom, yakni antara prediksi dan imaginasi.   Sebenarnya, memahami perkembangan konsep kewirausahaan akan membantu untuk lebih memahami ekonomi dan kebijakan-kebijakan ekonomi.  Ketika tidak ditemukan variabel ekonomi  untuk menjelaskan dampak kenaikan produktivitas terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi tanpa harus memicu inflasi, maka disinilah pentingnya variabel aktivitas kewirausahaan.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau Karl Marx dan Yusuf Schumpeter berdialog secara imaginer dengan topik “pengabaian  kewirausahaan dalam mainstream ekonomi modern”.  Semua faktor yang menghambat dan mempercepat pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan oleh para mahasiswa ekonomi, kecuali faktor aktivitas kewirausahaan.  Bahkan, dalam mempelajari ekonomi sosialis dan kapitalis sekalipun, peranan kewirausahaan juga tidak akan disinggung.  Hal ini karena sulit bagi para ekonom untuk menempatkan imaginasi ke dalam tahapan pertumbuhan ekonomi.

Padahal, dalam era persaingan yang semakin ketat dan mengglobal, kebutuhan akan tingginya tingkat aktivitas kewirausahaan produktif sangat esensial,  karena jika terus berkembang rente ekonomi, maka ekonomi akan rusak dan kalah dalam bersaing.  Oleh karena itu dengan fokus pada penelitian yang menggunakan variabel-variabel aktivitas kewirausahaan melalui eksplorasi kegiatan-kegiatan inovasi, maka kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi nasional sangat besar.

Daftar Pustaka

  1. Audretsch, D. B.  1995.   Innovation and Industry Evolution.  Cambridge, MA: MIT Press.
  2. Audretsch, D.B.  and M. Keilbach.  2005. Entrepreneurship Capital – Determinants and Impact. CEPR Discussion Papers 4905, C.E.P.R. Discussion Papers.
  3. Blaug, M.  1986.  Economic History and the History of Economics. New York: NYU Press.Jovanovic, B.  1994.  Entrepreneurial Choice When People Differ in their Management and Labor Skills.   Small Business Economics 6(3), 185–192.
  4. Bygrave, W. D.  2004.  The Portable MBA in Entrepreneurship: Third Edition/edited by William D. Bygrave , Andrew Zacharakis. – Ed. 3 – New Jersey : John Willey & Sons Inc.
  5. Carree, M. A. and R. Thurik.   2003.  The Impact of Entrepreneurship  on Economic Growth.  in David B. Audretsch and Zoltan J. Acs (eds.), Handbook of Entrepreneurship Research, Boston/Dordrecht:Kluwer-Academic Publishers, pp. 437–471.
  6. Cipolla, C. M.  1981.   Before the Industrial Revolution: European Society and Economy, 1000–1700, 2nd Edition, Cambridge, UK: Cambridge University Press.
  7. Davidsson, P.  2003, The Domain of Entrepreneurship Research: Some Suggestions.  in Jerome A. Katz and Dean Shepherd (eds.), Cognitive Approaches to Entrepreneurship  Research, Advances in Entrepreneurship, Firm Emergence and Growth 6, pp. 315–372.
  8. Dejardin, M.  2000.  Entrepreneurship and Economic Growth: An Obvious Conjunction? An Introductive Survey to Specific Topics.  CREW, Faculty of Economics and Social Sciences, University of Namur.
  9. Drozdiak, W.  2001.  Old World, New Economy: Technology, Entrepreneurship Are Transforming Europe.  Washington Post, February 18, H1.
  10. Formaini, R.L.  2001.  The Engine of Capitalist Process: Entrepreneurs in Economic Theory. in the Research Department of the Federal Reserve Bank of Dallas.  Economic And Financial Review Fourth Quarter 2001.
  11. Glaeser, E.L.,  S.S. Rosenthal and  C. William.  Urban Economics And Entrepreneurship.  Strange Working Paper 15536 http://www.nber.org/papers/w15536 National Bureau Of Economic Research 1050 Massachusetts Avenue Cambridge, MA 02138.
  12. Hall, J.C. and R.S. Sobel.  2008.  Institutions, Entrepreneurship, and Regional Differences in Economic Growth.  Southern Journal of Entrepreneurship 1, No. 1 (March 2008), pp. 69-96.
  13. Kirzner, I. M. 1973.  Competition and Entrepreneurship. Chicago: University of Chicago Press.
  14. Kreft, S.F.  and R.S. Sobel.  2005.  Public Policy, Entrepreneurship, And Economic Freedom.  Cato Journal, Vol. 25, No. 3 (Fall 2005). Copyright © Cato Institute. All rights reserved.
  15. Lazonick, W.  1991.  Business Organization and the Myth of the Market Economy, Cambridge, UK: Cambridge University Press.
  16. Leeson, P.T. dan P.J. Boettke. 2009.  Two-tiered entrepreneurship and economic development. International Review of Law and Economics, Elsevier, vol. 29(3), pages 252-259, September.
  17. McClelland, D.C.  1961. The Achieving Society. D. Van Nostrand. Place of Publication: Princeton, NJ. Publication.
  18. Romer, P. M.  1986.  Increasing Returns and Long Run Growth.   Journal of Political Economy 94, 1002–1037.
  19. Schmitz, J. A.  1989.  Imitation, Entrepreneurship, and Long-Run Growth.   Journal of Political Economy 97, 721–739.
  20. Smith, A.  1998.  An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Washington: Regnery Publishing.
  21. Solow, R. M.  1956.  A Contribution to the Theory of Economic Growth.  Quarterly Journal of Economics 70, 65–94.
  22. Weiss, L. W.  1976.  Optimal Plant Scale and the Extent of Suboptimal Capacity.  in R. T. Masson and P. David Qualls (eds.), Essays on Industrial Organization in Honor of Joe S. Bain, Cambridge, Mass.: Ballinger.
  23. Wennekers, S. and R. Thurik.  1999.  Linking Entrepreneurship and Economic Growth.  Small Business Economics 13(1), 27–55.
  24. Wong, P.K., Y. Ho, and E. Autio.  2005.   Entrepreneurship, Innovation and Economic Growth: Evidence from GEM data,” Small Business Economics, Springer, vol. 24(3), pages 335-350, 01.
  25. Yang, K.  2007.  Entrepreneurship in China. Published by Ashgate Publishing Limited Gower House  Croft Road  Aldershot   Hampshire GU11  England.

Terus Gali Ide Baru

March 26th, 2011

Home Republika Online

Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 14:33:00

Strategi Jitu untuk Produk Unik

Tak hanya menarik, boneka-boneka ini juga merupakan bisnis yang menjanjikan.

Jika gemar memeluk dan memiliki boneka, coba bayangkan bila boneka-boneka itu bisa ditumbuhi dengan aneka tanaman. Inilah produk andalan Gigin Mardiansyah (27 tahun).

Setelah melalui proses panjang, Gigin dan seorang rekannya berwirausaha untuk membuat boneka-boneka unik. Lewat kreativitas dan motivasi tinggi, mereka berhasil membuat boneka yang menjadi media tumbuh tanaman. Mereka pun menyebutnya dengan nama imut: Horta.

Hanya dengan memakai bahan baku seperti serbuk kayu, pupuk, dan benih tanaman, mereka memproduksi satu demi satu boneka horta itu. Berawal ketika Gigin yang masih kuliah di Jurusan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama keenam orang temannya Asep, Imam, Rahmatullah, Nissa Rahmadia, Nurhaedi, dan Agustina  mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian.

Mereka memilih untuk membuat penelitian tentang boneka yang menjadi tempat tumbuh tanaman. Tak lupa, mereka juga mengajukan proposal dengan judul “Perakitan Boneka Tanaman sebagai Mainan Edukatif untuk Mengajarkan Kecintaan Pertanian terhadap Anak-anak”. Tak disangka, proposal mereka lolos. Saat itulah, mereka mulai menggarap serius produk ini.

Di sela-sela kesibukan kuliah, mereka meningkatkan produksi. Untuk mendapatkan bahan baku seperti serbuk kayu, mereka berburu ke toko-toko yang membuat kerajinan dari kayu di sekitar Bogor. Selain serbuk kayu, mereka sempat mencoba menggunakan sabut kelapa. Namun, setelah dipertimbangkan, serbuk kayulah yang dipilih karena paling ekonomis.

”Selama seminggu, kita bisa menghasilkan 15-20 buah boneka. Itu pun tidak rutin. Kadang kita memproduksi, terkadang tidak,” ujar Gigin. Setelah empat bulan, akhirnya mereka mendapatkan boneka yang dapat tumbuh rumput. Awalnya, bentuk boneka tersebut hanya memakai sebuah cup, belum ada bentuk-bentuk menarik. Selama tiga tahun, mereka terus mengembangkan boneka-boneka. Untuk pemasaran, bazar kampus menjadi tempat pilihan.

Sayang, boneka yang mereka buat tak laku di pasaran. Agaknya, saat itu belum banyak orang yang tahu manfaat dan apa boneka tersebut. Seminggu kemudian, mereka mencoba kembali mempromosikan boneka mereka. Kali ini, mereka menggunakan sampel boneka yang telah tumbuh rumput. Tak disangka, animo masyarakat mulai tinggi. Mereka mulai penasaran dan akhirnya membeli boneka tersebut.

Setelah itu mereka mulai rajin menjual boneka-boneka buatan mereka di bazar maupun pameran yang diselenggarakan oleh pihak kampus baik itu yang berada di Bogor atau di luar daerah Bogor.Akan tetapi, di tengah peningkatan produksi itu, Gigin harus merelakan teman-temannya untuk berkarier di tempat lain. Hingga akhirnya yang tersisa hanya dia dan seorang temannya.

Namun, ini tak lantas membuat mereka patah arang. Keduanya justru makin rajin berproduksi dan mengikuti berbagai lomba. Setelah mengikuti berbagai ajang lomba itu, usaha Gigin makin gigih. Permintaan di pasaran kian tinggi. Namun, hal itu tak membuat Gigin berhenti untuk mencoba melombakan lagi boneka hortanya.

Ibu rumah tangga

Permintaan yang semakin tinggi membuat Gigin mengembangkan produksinya dengan mencoba melibatkan tenaga ibu-ibu rumah tangga yang berada di daerah Ciomas. Ibu-ibu rumah tangga ini dibekali keterampilan untuk membuat boneka horta. Ternyata, hal itu sangat membantu Gigin dan teman-temannya untuk dapat memproduksi boneka horta dalam jumlah yang banyak. ”Awalnya, kita melatih tiga orang ibu rumah tangga dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kita sangat terbantu sekali dalam produksi hortanya,” ungkap Gigin senang.

Kini, usaha yang ditekuni Gigin dan teman berkembang sangat pesat. Bahkan, produknya telah menyebar hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Tak hanya dari wilayah sekitar Bogor, permintaan juga berdatangan dari kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bali, dan Bandung. Setiap piece boneka horta dijual di pasaran dengan harga Rp 25 ribu per buah. Sedangkan jika langsung membeli di tempat pembuatannya, konsumen bisa mendapatkan harga Rp 20 ribu.

Bila membeli dalam jumlah banyak, tentu saja harganya akan jauh lebih murah. Untuk sebuah boneka horta bisa dijual dengan harga Rp 15 ribu tergantung jumlah pembelian. ”Setiap harinya boneka horta bisa terjual hingga 500 buah,” ungkap Gigin.

Tentu omset yang didapat sangat menggiurkan. Namun, Gigin tidak bersedia menyebutkan keuntungan yang didapatnya saat ini. ”Alhamdulillah, cukup buat kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya sambil tersenyum. Sistem promosi yang dulu hanya melalui mulut ke mulut, kini mulai berkembang melalui internet, dan media massa baik cetak maupun elektronik.

Di balik kesuksesan itu, Gigin sebenarnya masih terganjal kendala dalam produksi hortanya tersebut. Ia harus memutar otak mencari cara untuk dapat menjaga kualitas tumbuh benih tanamannya. ”Itu yang sebenarnya masih kita pikirkan,” ungkap pria kelahiran Purwakarta, 23 Maret 1984 tersebut.Tentu saja, tak ada usaha yang besar tanpa kendala. Gigin pun berharap, usaha horta ini akan terus berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. mg11; ed: endah hapsari

Terus Gali Ide Baru

Meski unggul berkat produk yang unik dan inovatif, ternyata ada strategi tersendiri untuk memasarkan produk serupa. Bagi Burhanuddin, dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (FEM IPB), butuh inovasi untuk mengembangkan produk yang terbilang sangat  segmented . Maklum, produk boneka horta itu ditujukan hanya bagi orang-orang yang senang dengan boneka dan tanaman, serta ada waktu untuk merawatnya.

”Harus ada perbedaan dari produk horta tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan produk,” ujar Burhan, sapaan akrabnya. Agar dapat terus berkembang, lanjut Burhan, salah satu kiatnya adalah menentukan  positioning yang berarti menempatkan horta tidak sekadar sebagai boneka belaka atau tanaman.

”Kalau sebagai boneka buat anak-anak, paling 2-3 hari sudah tidak ada manfaatnya lagi. Mungkin perlu ada semacam bentuk ‘reparasi’ bagi horta itu sendiri, sehingga anak-anak dapat menganggap horta itu benar-benar sebagai tanaman hidup. Tak lagi sekadar mainan,” ujar Burhan. ‘Reparasi’ itu bisa dilakukan dengan cara, jika tidak terpakai lagi, horta tersebut dapat ditanami kembali, sehingga manfaatnya tetap ada terutama bagi anak-anak.

Burhan juga mengatakan, tantangan sebagai pengusaha horta adalah harus sesering mungkin mendapatkan ide-ide segar. Tak hanya terfokus pada bentuk, ide-ide itu juga semestinya dapat pula untuk mengembangkan manfaat horta itu sendiri. ”Seorang pembuat horta haruslah seorang pemikir, sehingga bisnis horta tidak hanya terfokus pada satu macam produk,” ujar Burhan.

Ide baru agaknya sudah menjadi harga mati untuk pengusaha produk serupa. ”Bisa saja mereka membuat kelompok kerja sendiri sebagai bagian dari pengembangan usaha mereka. Itulah cara mereka untuk menjaga potensi pasar”, ujar Burhan.

Persaingan? Tampaknya, pebisnis horta tak perlu khawatir. Boleh dibilang, mereka masih menjadi satu-satunya pemain. “Kendalanya bukan dalam persaingan, karena yang membuat horta itu sangat sedikit sekali saat ini,” ungkap Burhan.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin