burhan's blog

Agribusiness and Entrepreneur Forever

Terus Gali Ide Baru - burhan's blog

Terus Gali Ide Baru

March 26th, 2011

Home Republika Online

Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 14:33:00

Strategi Jitu untuk Produk Unik

Tak hanya menarik, boneka-boneka ini juga merupakan bisnis yang menjanjikan.

Jika gemar memeluk dan memiliki boneka, coba bayangkan bila boneka-boneka itu bisa ditumbuhi dengan aneka tanaman. Inilah produk andalan Gigin Mardiansyah (27 tahun).

Setelah melalui proses panjang, Gigin dan seorang rekannya berwirausaha untuk membuat boneka-boneka unik. Lewat kreativitas dan motivasi tinggi, mereka berhasil membuat boneka yang menjadi media tumbuh tanaman. Mereka pun menyebutnya dengan nama imut: Horta.

Hanya dengan memakai bahan baku seperti serbuk kayu, pupuk, dan benih tanaman, mereka memproduksi satu demi satu boneka horta itu. Berawal ketika Gigin yang masih kuliah di Jurusan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama keenam orang temannya Asep, Imam, Rahmatullah, Nissa Rahmadia, Nurhaedi, dan Agustina  mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian.

Mereka memilih untuk membuat penelitian tentang boneka yang menjadi tempat tumbuh tanaman. Tak lupa, mereka juga mengajukan proposal dengan judul “Perakitan Boneka Tanaman sebagai Mainan Edukatif untuk Mengajarkan Kecintaan Pertanian terhadap Anak-anak”. Tak disangka, proposal mereka lolos. Saat itulah, mereka mulai menggarap serius produk ini.

Di sela-sela kesibukan kuliah, mereka meningkatkan produksi. Untuk mendapatkan bahan baku seperti serbuk kayu, mereka berburu ke toko-toko yang membuat kerajinan dari kayu di sekitar Bogor. Selain serbuk kayu, mereka sempat mencoba menggunakan sabut kelapa. Namun, setelah dipertimbangkan, serbuk kayulah yang dipilih karena paling ekonomis.

”Selama seminggu, kita bisa menghasilkan 15-20 buah boneka. Itu pun tidak rutin. Kadang kita memproduksi, terkadang tidak,” ujar Gigin. Setelah empat bulan, akhirnya mereka mendapatkan boneka yang dapat tumbuh rumput. Awalnya, bentuk boneka tersebut hanya memakai sebuah cup, belum ada bentuk-bentuk menarik. Selama tiga tahun, mereka terus mengembangkan boneka-boneka. Untuk pemasaran, bazar kampus menjadi tempat pilihan.

Sayang, boneka yang mereka buat tak laku di pasaran. Agaknya, saat itu belum banyak orang yang tahu manfaat dan apa boneka tersebut. Seminggu kemudian, mereka mencoba kembali mempromosikan boneka mereka. Kali ini, mereka menggunakan sampel boneka yang telah tumbuh rumput. Tak disangka, animo masyarakat mulai tinggi. Mereka mulai penasaran dan akhirnya membeli boneka tersebut.

Setelah itu mereka mulai rajin menjual boneka-boneka buatan mereka di bazar maupun pameran yang diselenggarakan oleh pihak kampus baik itu yang berada di Bogor atau di luar daerah Bogor.Akan tetapi, di tengah peningkatan produksi itu, Gigin harus merelakan teman-temannya untuk berkarier di tempat lain. Hingga akhirnya yang tersisa hanya dia dan seorang temannya.

Namun, ini tak lantas membuat mereka patah arang. Keduanya justru makin rajin berproduksi dan mengikuti berbagai lomba. Setelah mengikuti berbagai ajang lomba itu, usaha Gigin makin gigih. Permintaan di pasaran kian tinggi. Namun, hal itu tak membuat Gigin berhenti untuk mencoba melombakan lagi boneka hortanya.

Ibu rumah tangga

Permintaan yang semakin tinggi membuat Gigin mengembangkan produksinya dengan mencoba melibatkan tenaga ibu-ibu rumah tangga yang berada di daerah Ciomas. Ibu-ibu rumah tangga ini dibekali keterampilan untuk membuat boneka horta. Ternyata, hal itu sangat membantu Gigin dan teman-temannya untuk dapat memproduksi boneka horta dalam jumlah yang banyak. ”Awalnya, kita melatih tiga orang ibu rumah tangga dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kita sangat terbantu sekali dalam produksi hortanya,” ungkap Gigin senang.

Kini, usaha yang ditekuni Gigin dan teman berkembang sangat pesat. Bahkan, produknya telah menyebar hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Tak hanya dari wilayah sekitar Bogor, permintaan juga berdatangan dari kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bali, dan Bandung. Setiap piece boneka horta dijual di pasaran dengan harga Rp 25 ribu per buah. Sedangkan jika langsung membeli di tempat pembuatannya, konsumen bisa mendapatkan harga Rp 20 ribu.

Bila membeli dalam jumlah banyak, tentu saja harganya akan jauh lebih murah. Untuk sebuah boneka horta bisa dijual dengan harga Rp 15 ribu tergantung jumlah pembelian. ”Setiap harinya boneka horta bisa terjual hingga 500 buah,” ungkap Gigin.

Tentu omset yang didapat sangat menggiurkan. Namun, Gigin tidak bersedia menyebutkan keuntungan yang didapatnya saat ini. ”Alhamdulillah, cukup buat kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya sambil tersenyum. Sistem promosi yang dulu hanya melalui mulut ke mulut, kini mulai berkembang melalui internet, dan media massa baik cetak maupun elektronik.

Di balik kesuksesan itu, Gigin sebenarnya masih terganjal kendala dalam produksi hortanya tersebut. Ia harus memutar otak mencari cara untuk dapat menjaga kualitas tumbuh benih tanamannya. ”Itu yang sebenarnya masih kita pikirkan,” ungkap pria kelahiran Purwakarta, 23 Maret 1984 tersebut.Tentu saja, tak ada usaha yang besar tanpa kendala. Gigin pun berharap, usaha horta ini akan terus berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang. mg11; ed: endah hapsari

Terus Gali Ide Baru

Meski unggul berkat produk yang unik dan inovatif, ternyata ada strategi tersendiri untuk memasarkan produk serupa. Bagi Burhanuddin, dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (FEM IPB), butuh inovasi untuk mengembangkan produk yang terbilang sangat  segmented . Maklum, produk boneka horta itu ditujukan hanya bagi orang-orang yang senang dengan boneka dan tanaman, serta ada waktu untuk merawatnya.

”Harus ada perbedaan dari produk horta tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan produk,” ujar Burhan, sapaan akrabnya. Agar dapat terus berkembang, lanjut Burhan, salah satu kiatnya adalah menentukan  positioning yang berarti menempatkan horta tidak sekadar sebagai boneka belaka atau tanaman.

”Kalau sebagai boneka buat anak-anak, paling 2-3 hari sudah tidak ada manfaatnya lagi. Mungkin perlu ada semacam bentuk ‘reparasi’ bagi horta itu sendiri, sehingga anak-anak dapat menganggap horta itu benar-benar sebagai tanaman hidup. Tak lagi sekadar mainan,” ujar Burhan. ‘Reparasi’ itu bisa dilakukan dengan cara, jika tidak terpakai lagi, horta tersebut dapat ditanami kembali, sehingga manfaatnya tetap ada terutama bagi anak-anak.

Burhan juga mengatakan, tantangan sebagai pengusaha horta adalah harus sesering mungkin mendapatkan ide-ide segar. Tak hanya terfokus pada bentuk, ide-ide itu juga semestinya dapat pula untuk mengembangkan manfaat horta itu sendiri. ”Seorang pembuat horta haruslah seorang pemikir, sehingga bisnis horta tidak hanya terfokus pada satu macam produk,” ujar Burhan.

Ide baru agaknya sudah menjadi harga mati untuk pengusaha produk serupa. ”Bisa saja mereka membuat kelompok kerja sendiri sebagai bagian dari pengembangan usaha mereka. Itulah cara mereka untuk menjaga potensi pasar”, ujar Burhan.

Persaingan? Tampaknya, pebisnis horta tak perlu khawatir. Boleh dibilang, mereka masih menjadi satu-satunya pemain. “Kendalanya bukan dalam persaingan, karena yang membuat horta itu sangat sedikit sekali saat ini,” ungkap Burhan.